Minggu, 29 Maret 2015

KATA PENGANTAR Puji dan syukur kehadirat Allah Swt yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul “Perkembangan Islam di Indonesia” diharapkan makalah ini juga dapat menambah wawasan maupun ilmu bagi teman-teman dan para pembaca. Penyusun berharap agar makalah ini dapat digunakan dengan sebaik mungkin. Kesempurnaan hanya milik Allah. Maka penyusun sadar bahwa materi yang ada didalam makalah ini belum sepenuhnya sesuai dengan harapan pembaca, namun penyusun sudah berusaha sebaik mungkin. Jadi dengan demikian kritik dan sarannya penyusun harapkan demi penyempurnaan makalah ini. Atas perhatian para pembaca sekalian Penyusun ucapkan terimakasih. Pekanbaru, 27 Maret 2015 i DAFTAR ISI KATA PENGANTAR....................................................................................................................i DARTAR ISI ……………………………………………………………………….………........ii BAB I PENDAHULUAN……………………….………………………………………......……1 A. Latar Belakang………………………………….……………………………….....….......1 B. Rumusan Masalah………………………………….…………………………….....……..2 C. Tujuan Masalah…………………………………….…………………………....….....…..2 BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………….……………….......3 Masuknya Islam ke Indonesia…………………………………………………………............3 Tersiarnya Islam ke Indonesia………………………………………………………….........7 Perkembangan Islam di Beberapa Wilayah di Indonesia………………………...….…..........8 Pengaruh Islam Terhadap Peradaban Bangsa Indonesia………………………..…..…........9 Kerajaan-kerajaan islam di Indonesia……………………………………………….….........10 Manfaat yang Dapat di Ambil dari Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia……..............13 BAB III PENUTUP........……………………………………………….……………………….15 A. Kesimpulan …….........……………………………………………………...……….......15 B. Saran …………………........……………………………………………….………...….15 DAFTAR PUSTAKA…………….....…………………….…………….………….…...………16 ii BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Banyak teori yang menjelaskan mengenai kedatangan islam ke Indonesia, baik mengenai asal-usul, waktu dan para pembawanya. Di antaranya ada yang mengatakan bahwa agama islam datang langsung dari timur tengah, langsung dari arab dan sudah terjadi pada abad pertama hijriyah.Hal itu dibuktikan dangan ditemukannya beberapa situs kuno di Sumatra. Bukti itu di perkuat dengan informasi data yang di peroleh dari berita seorang pendeta budha dari cina bernama I-Tsing,bahwa sekitar tahun 674 M sudah ada sebuah perkampungan arab di Sumatra selatan. I-Tsing menyebutnya dengan po-sse dan Ta-shih. Mereka mendapat fasilitas perkampungan di Palembang dan dari situ, antara lain, agama islam tersebar. Islam yang datang ke sini berasal langsung dari arab, bukan Persia atau india. Selain itu, ditemukan istilah bersila dalam nomenklatur melayu. Kata ini menunjukkan adanya menunjukan adanya hubungan antara raja Budha di Palembang dengan masyarakat non budha Hindu, yang tidak menyembah selain kepada tuhan. Mereka ini bisa diidentifikasi sebagai umat islam pertama di Indonesia. Kemudian pada masa-masa sesudahnya, hubungan perdagangan antara kerajaan-kerajaan nusantara dengan kerajaan, seperti india dan timur tengah, semakin intens dilakukan. Hubungan ini semakin memperteguh umat islam untuk menyebarkan ajaran islam ke tengah-tengah masyarakat Indonesia. Selain itu, ditemukan juga bukti-bukti peninggalan sejarah di aceh dan jawa timur, terutama di Leran, Gresik. Di Leran, ditemukan makam fathimah binti maimun, salah seorang saudagar muslim yang meninggal dan dimakamkan di gresik.Terdapat teori lain yang dikembangkan oleh C. Snouck Hurgronye. Dalam teorinya ia mengatakan bahwa agama islam masuk ke Indonesia bukan dari arab, tetapi dari Gujarat, india. Hal itu dibuktikan dengan adanya unsur local yang berpengaruh dalam pengembangan ajaran islam di nusantara. Para penyebar islam menggunakan cara-cara perdagangan, perkawinan, pendidikan dan tasawuf dalam penyebaran islam. B. RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana masuknya islam ke indonesia? 2. Bagaimana tersiarnya islam di indonesia? 3. Bagaimana perkembangan islam di wilayah Indonesia? 4. Bagaimana pengaruh islam terhadap peradaban bangsa Indonesia? 5. Apa saja kerajaan-kerajaan islam di Indonesia? 6. Apa manfaat yang dapat di ambil dari sejarah perkembangan islam di Indonesia? C. TUJUAN MASALAH 1. Untuk mengetahui masuknya islam ke Indonesia. 2. Untuk mengetahui tersiarnya islam di Indonesia. 3. Untuk mengetahui perkembangan islam di wilayah Indonesia. 4. Untuk mengetahui pengaruh islam terhadap peradaban bangsa Indonesia. 5. Mengetahui dan mengenal kerajaan-kerajaan islam di wilayah Indonesia. 6. Mengetahui manfaat dari sejarah perkembangan islam di Indonesia. BAB II PEMBAHASAN A. Masuknya Islam ke Indonesia Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijrah atau abad ke tujuh/ke delapan masehi. Ini mungkin didasarkan pada penemuan batu nisan seorang wanita muslimah yang bernama Fatimah binti Maimun di Leran dekat Surabaya yang bertahun 475 H atau 1082 M. Sedangkan menurut laporan seorang musafir Maroko Ibnu Batutah yang mengunjungi Samudra Pasai dalam perjalanannya ke Negeri Cina pada 1345M, Agama islam yang bermadzhab Syafi’I telah mantap disana selama seabad. Oleh karena itu, abad XIII biasanya dianggap sebagai masa awal masuknya masuknya agama Islam keIndonesia. Ketika Islam datang di Indonesia, berbagai agama dan kepercayaan seperti animisme, dinamisme, Hindu dan Budha, sudah banyak dianut oleh bangsa Indonesia bahkan dibeberapa wilayah kepulauan Indonesia telah berdiri kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan Budha. Misalnya kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, kerajaan Taruma Negara di Jawa Barat, kerajaan Sriwijaya di Sumatra dan sebagainya. Namun Islam datang ke wilayah-wilayah tersebut dapat diterima dengan baik, karena Islam datang dengan membawa prinsip-prinsip perdamaian, persamaan antara manusia (tidak ada kasta), menghilangkan perbudakan dan yang paling penting juga adalah masuk kedalam Islam sangat mudah hanya dengan membaca dua kalimah syahadat dan tidak ada paksaan. Agama Islam berasal dari tanah Arab dan dari tanah Arab berkembanglah agama Islam kemana-mana, diantaranya ke Gujarat (India) dan Persia. Demikian pula berangsur-angsur meluas kearah timur hingga Semenanjung Malaka. Menurut kesimpulan “Seminar Masuknya Islam ke Indonesia” di Medan tahun 1963, Islam masuk ke Indonesia sudah semenjak abad pertama Hijriyah (abad ke-7 M). “Seminar Masuknya Islam di Indonesia” tersebut menghasilkan keputusan sebagai berikut: 1) Menurut sumber-sumber yang kita ketahui, islam untuk pertama kalinya telah masuk ke Indonesia pada abad pertama hijrah (abad ke 7/8 M) dan langsung dari Arab. 2) Daerah yang pertama didatangi oleh Islam ialah pesisir Sumatera dan bahwa setelah terbentuknya masyarakat Islam, maka raja Islam yang pertama berada di Aceh. 3) Mubaliq-mubaliq Islam pertama yang datang ke Indonesia merangkap sebagai saudagar. 4) Penyiaran itu di Indonesia dilakukan secara damai. 5) Kedatangan Islam membawa kecerdasan dan peradaban yang tinggi dalam membentuk kepribadian bangsa Indonesia dalam menahan penderitaan dan perjuangan melawan penjajahan bangsa asing. a. Cara masuknya Islam di Indonesia Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 atau ke-8 M yang bertepatan dengan abad ke-1 atau ke-2 H. Rute yang dilewati adalah jalur Utara dan Selatan. Jalur Utara, dengan rute : Arab (Mekah dan Madinah) meliputi ; Damaskus – Bagdad – Gujarat – Srilangka – Indonesia Jalur Selatan, dengan rute : Arab (Mekah dan Madinah) meliputi ; Yaman – Gujarat – Srilangka – Indonesia. Daerah yang mula-mula menerima Agama Islam adalah Pantai Barat pulau Sumatera. Dari tempat itu, Islam kemudian menyebar ke seluruh Indonesia. Beberapa tempat penyebarannya adalah : a. Pesisir Sumatera bagian Utara di Aceh b. Pariaman di Sumatera Barat c. Gresik dan Tuban di Jawa Timur d. Demak di Jawa Tengah e. Banten di Jawa Barat f. Palembang di Sumatera Selatan g. Banjar di Kalimantan Selatan h. Makassar di Sulawesi Selatan i. Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo di Maluku j. Sorong di Irian Jaya b. Jalur-jalur yang Penyebaran Agama Islam di Indonesia Proses penyebaran Islam di Indonesia berjalan secara damai. Hal ini terjadi karena penyebaran Islam di Nusantara dilaksanakan melalui penyesuaian diri dengan adat istiadat pendidika tanpa paksaan dan kekerasan. Itulah penyebab utama agama Islam mudah diterima oleh masyarakat Indonesia. Faktor lainnya adalah karena agama Islam mengajarkan persamaan derajat dan martabat manusia, tidak membeda-bedakan baik jenis kelamin maupun kedudukan. Uka Tjandra Sasmita, menyatakan bahwa proses masuknya Islam di Indonesia dilakukan melalui beberapa cara sebagai berikut: 1. Perdagangan Perdagangan merupakan proses pertama Islamisasi di Indonesia. Pada Abad ke-7 M, bangsa Indonesia kedatangan para pedagang dari Arab, Persia dan India. Mereka telah mengambil bagian dari kegiatan perdagangan di Indonesia. Hal itu, mengakibatkan adanya jalinan hubungan dagang antara pedagang Indonesia dengan pedagang Islam yang datang dari Arab, Persia dan India. Kegiatan berdagang dilaksanakan oleh seluruh umat Islam. Selama melakukan kegiatan dagang, para pedagang Muslim juga melakukan kegiatan dakwah. Dakwah ini sangat efektif, karena dakwah itu kemudian diteruskan oleh pedagang Indonesia yang telah masuk Islam, ketika mereka berdagang ke tempat lain. Sasmita menyatakan banyak di antara para pedagang Islam yang kemudian tinggal menetap di daerah pesisir di pulau Jawa dan Sumatera. 2. Perkawinan Pedagang pada saat itu merupakan orang yang dihormati dan memiliki kedudukan yang tinggi di tengah masyarakat. Kondisi ini mengakibatkan penduduk pribumi menginginkan untuk menikahkan putri-putrinya dengan para pedagang tersebut, dengan terlebih dahulu mereka diislamkan. Cara ini merupakan langkah efektif, karena dengan pernikahan ini akan terlahir seorang anak yang muslim juga. Harapan lainnya, dengan pernikahan akan terbentuk masyarakat sehingga suatu saat dapat terbentuk kerajaan dan pemerintahan Islam. Contoh peristiwa pernikahan antara pedagang Islam dengan penduduk pribumi adalah perkawinan Raden Rakhmat atau Sunan Ampel dengan Nya Manila, perkawinan Sunan Gunung Djati dengan putri Kawungaten, perkawinan antara Raja Brawijaya dengan putri Jeumpa yang bergama Islam yang kemudian berputra Raden Patah yang menjadi Raja Demak. 3. Politik Islamisasi jalur politik dilakukan secara berkesinambungan antara penguasa dan pemerintahan. Setelah penguasa atau raja masuk Islam, hampir dapat dipastikan bahwa rakyatnya juga masuk Islam. Misalnya yang terjadi di Maluku dan Sulawesi. Hal itu terjadi karena masyarakat memiliki kepatuhan yang tinggi terhadap pemerintah, dan seorang raja akan menjadi panutan bahkan menjadi contoh bagi rakyatnya. Di Jawa proses perkaninan para wali dan juru dakwah dengan putri-putri keturunan kerajaan, membuat status dakwah dan penyebaran Islam mendapatkan perlindungan dan berkembang lebih cepat. Setelah raja dan rakyat memeluk Islam, kepentingan politik dilakukan dengan cara perluasan wilayah kerajaan, yang diikuti dengan penyebaran agama Islam. Misalnya Sultan Demak yang mengirimkan pasukan di bawah komandi Fatahillah untuk menguasai wilayah Jawa Barat dan menyebarkan Islam di wilayah tersebut. 4. Pendidikan Islamisasi jalur pendidikan dilakukan melalui pendidikan pesantren oleh para guru agama, kiyai dan ulama. Bahkan banyak diantara para santri itu yang mendirikan dan memiliki pondok pesantren sendiri. Tujuan pendidikan di pondok pesantren adalah untuk mempermudah penyebaran dan pemahaman agama Islam. Contoh pesantren perintis penyebaran Islam seperti pesantren yang didirikan oleh Raden Rakhmat di Ample Denta-Surabaya, Pesantren Sunan Giti di Giri. Santri yang belajar di pesantren tersebut bukan hanya berasal dari lingkungan sekitar, akan tetapi banyak yang datang dari jauh bahkan dari luar pulau jawa semisal Kalimantan, Maluku, Makasar dan Sumatera. 5. Tasawuf Para sufi mengajarkan tasawuf yang diramu dengan ajaran yang suda h dikenal oleh masyarakat Indonesia. Seorang sufi biasa dikenal dengan gaya hidup yang penuh kesederhanaan. Seorang sufi biasa menghayati kehidupan masyarakatnya dan hidup bersama di tengah-tengah masyarakat. Para sufi terbiasa membantu masyarakat, diantara mereka ada yang ahli dalam menyembuhkan penyakit. Selain itu juga aktif menyiarkan dan mengajarkan ajaran Islam. Diantara para sufi itu yang melakukan islamisasi dengan pendekatan tasawuf adalah Hamzah Fansuri dari Aceh dan Ki Ageng Pengging di Jawa. 6. kesenian Islamisasi jalur kesenian yang paling terkenal adalah dengan cara mengadakan pertunjukan seni gamelan dan wayang. Cara ini banyak ditemukan di kawasan Yogyakarta, Solo, Cirebon. Seni wayang, adalah kesenian yang memiliki banyak penggemar pada saat itu. Dengan mengemas cerita wayang, para ulama menyisipkan ajaran Islam ke dalamnya sehingga masyarakat dapat dengan mudah menangkap dan memahami ajaran Islam. Contoh pertunjukan wayang yang dilaskanakan oleh Sunan Kalijaga, dimana dalam pertunjukannya masyarakat dapat menonton dengan karcis membaca dua kalimat syahadat. Kesenian lainnya yang juga berkembang dan menjadi jalur dalam penyebaran Islam adalah seni bangunan, seni rupa (kaligrafi), seni tarik suara, permainan anak-anak. Selain beberapa cara di atas, ada beberapa faktor yang menjadi sebab kenapa Islam mudah berkembang di tanah air, yaitu: • Agama Islam bersifat terbuka sehingga penyiaran dan pengajaran agama Islam dapat dilakukan oleh setiap orang Islam; • Penyebaran agama Islam dilakukan dengan cara damai; • Islam tidak mengenal diskriminasi dan tidak membedakan kedudukan seseorang dalam masyarakat; • Perayaan-perayaan dalam agama Islam dilakukan dengan sederhana; • Dalam Islam dikenal adanya kewajiban bagi orang yang mampu untuk mengeluarkan zakat. Zakat ini bertujuan untuk menciptakan kesetaraan dan kepedulian hidup di masyarakat B. Tersiarnya Islam di Indonesia Sebelum Islam masuk ke Indonesia, agama Hindu dan Budha telah berkembang luas di nusantara ini, disamping banyak yang masih menganut animism dan dinamisme, kedua agama itu kian lama kian pudar cahayanya dan akhirnya kedudukannya sepenuhnya diganti oleh agama Islam yang kemudian menjadi anutan 85 hingga 95% rakyat Indonesia. Sebab-sebab sangat pesat dan cepat tersiarnya Islam di Indonesia antara lain sebagai berikut: 1. Terutama sekali faktor agama Islam (aqidah, syariah dan akhlak islam) sendiri yang lebih banyak “berbicara” kepada segenap lapisan masyarakat Indonesia. 2. Faktor para mujtahid dakwah yang banyak terdiri atas para saudagar yang taraf kebudayaannya sudah tinggi, yang telah berhasil membawakan Islam dan segala kebijaksanaan kemahiran dan keterampilan 3. Ajaran Islam tentang dakwah untuk menyampaikan ajaran Allah walaupun sekedar satu ayat kepada segenap manusia di seluruh pelosok bumi telah menjadikan segenap kaum muslimin menjadi umat dakwah. 4. Baik agama Hindu maupun Budha pada umumnya dipeluk oleh orang-orang keraton yang pada saat mulai tersebarnya Islam antara raja yang satu dengan yang lainnya terlibat dalam perselisihan. 5. Pernikahan antara para penyebar Islam dan orang-orang yang baru di islamkan melahirkan generasi pelanjut yang menganut dan menyebarkan Islam. C. Perkembangan Islam di Beberapa Wilayah di Indonesia a) Perkembangan Islam di Sumatera Daerah Pertama dari kepulauan Indonesia yang dimasuki Islam adalah Sumatera bagian Utara, seperti Pasai dan Perlak. Karena wilayah Pasai dan Perlak letaknya di tepi selat Malaka, tempat lalu lintas kapal-kapal dari India. Pada abad XIII-XV M berdiri kerajaan Samudra Pasai dan merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan Samudra Pasai terletak di kampung Samudra di tepi sungai Pasai dan berdiri sejak tahun 1261 M. Raja-raja yang memerintah Samudra Pasai berturut-turut sebagai berikut : Sultan Al Malikus Shaleh Sultan Al Malikuz Zahir I Sultan Al Malikuz Zahir II Sultan Zainal Abidin Sultan Iskandar Persia dan Gujarat yang juga para mubalig Islam banyak yang menetap di bandar-bandar sepanjang Sumatera Utara. Mereka menikah dengan wanita-wanita pribumi yang sebelumnya telah diislamkan, sehingga terbentuklah keluarga-keluarga Muslim. Para mubalig pada waktu itu juga ke Cina. Para pedagang dari India, yakni bangsa Arab berdakwa kepada para Raja-raja kecil, ketika raja tersebut masuk Islam, rakyatnya pun banyak yang ikut masuk Islam sehingga berdirilah kerajaan Islam pertama, yaitu Kerajaan Samudera Pasai. Seiring dengan kemajuan Samudera Pasai yang sangat pesat, perkembangan agama Islam pun mendapat perhatian dan dukungan penuh dan para ulama serta mubalignya menyebar ke seluruh nusantara. b) Perkembangan Islam di Jawa Masuknya Islam di Pulau Jawa pada awalnya dibawa oleh pedagang muslim setelah berdirinya kerajaan Malaka yang mencapai punjak kejayaannya pada asa Sultan Mansursah. Wilayah perdagangannya sangat luas sampai ke Demak, Jepara, Tuban dan Giri. Melalui hubungan perdagangan tersebut, akhirnya masyarakat Jawa mengenal Islam. D. Pengaruh Islam terhadap Peradaban Bangsa Indonesia 1.Peradaban dan Agama Masyarakat Indonesia Sebelum Kedatangan Islam Secara geografis, wialayah Indonesia termasuk ke dalam kawasan Asia Tenggara. Masyarakat di wilayah ini telah memiliki peradaban yang tinggi sebelum kedatangn Islam. Hal itu disebabkan karena wilayah Asia Tenggara merupakan Negara-negara yang memiliki kesamaan budaya dan agama. Bangsa Indonesia dalam sejarahnya telah mengenal tulisan yang diajarkan oleh para penyebar agama Hindu dan Budha.pengaruh ini telah berlangsung cukup lama, mungkin sejak abad ke-6 atau ke-7 M sampai abad ke-14 dan ke-15 M. pengaruh Hinduisme dan Budhisme membawa perubahan besar, terutama dalam sistem pemerintahan. Bukti dari pengaruh agama Hindu dan Budha bagi masyarakat Indonesia dapat dilihat dari banyaknya bangunan-bangunan suci untuk peribadatan, seperti candi-candi, ukiran, dan sebagainya. Semua bangunan itu merupakan perpaduan antara seni bangunan zaman megalithicum, seperti punden berundak-undak.ukiran dan relief yang terdapat di dalamnya menggambarkan kreatifitas bangsa Indonesia. 2. Pengaruh Islam terhadap Peradaban Bangsa Indonesia dan Perkembangannya Islam sebagai agama baru yang dianut sebagian masyarakat Indonesia, telah banyak memainkan peranan penting dalam berbagai kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Peranan itu dapat dilihat dari perkembangan Islam dan pengaruhnya di masyarakat Indonesia sangat luas, sehingga agak sulit untuk memisahkan antara kebudyaan local dengan kebudayaan Islam. Masuknya kebudayaan Islam dalam kebudayaan nasional, meliputi bahasa, nama, adat istiadat dan kesenian. a. Pengaruh Bahasa dan Nama Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional banyak terpengaruh dari bahasa Arab. Bahasa ini sudah begitu menyatu dalam lidah bangsa Indonesia. Tidak hanya dalam bahasa komunikasi sehari-hari, bahakan dipergunakan pula dalam bahasa surat kabar, dan sebagainya. Pengaruh Islam dalam bidang nama, sungguh banyak sekali. Banyak tokoh dan bukan tokoh masyarakat menggunakan nama berdasarkanpada bahasa Arab,yang merupakan bahasa simbol pemersatu Islam. Semua itu bukti adanya pengaruh Islam dalam kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. b. Pengaruh Adat Istiadat Adat istiadat yang ada dan berkembang di Indonesia banyak dipengaruhi oleh peradaban Islam. Diantara pengaruh itu adalah ucapan salam kepada setiap muslim yang dijumpai, atau penggunaannya dalam acara-acara resmi pemerintahan. Pengaruh lainnya adalah berupa ucapan-ucapan kalimat penting dalam do’a. yang merupakan pengaruh dari tradisi Islam yang lestari. c. Pengaruh Dalam Kesenian dan Bangunan Ibadah Pengaruh kesenian yang paling menonjol dalam hal ini terlihat dalam irama qasidah dan lagu-lagu yang bernafaskan ajaran Islam. Syair pujian yang mengagungkan nama-nama Allah yang sering diucapkan oleh umat Islam, merupakan bukti pengaruh ajaran Islam terhadap kehidupan beragama masyarakat Islam Indonesia. Begitu pula pengaruh dalam bidang bangunan peribadatan. Banyak bangunan mesjid yang ada di Indonesia, terpengaruh dari bangunan mesjid yang ada di Negara-negara Islam, baik yang ada di Timur Tengah ataupun di tempat-tempat lainnya di dunia Islam. d. Pengaruh Dalam Bidang Politik Ketika kerajaan-kerajaan Islam mengalami masa kejayaannya, banyak sekali undur politik Islam yang berpengaruh dalam system politik pemerintahan kerajaan-kerajaan Islam tersebut. Misalnya tentang konsep khalifatullah fil ardi dan dzilullah fil ardi. Kedua konsep ini diterapkan pada masa pemerintahan kerajaan Islam Aceh Darussalam dan kerajaan Islam Mataram. E. Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia 1. Kerajaan Samudra Pasai Kerajaan Samudra Pasai merupakan kerajaan Islam pertama, didirikan oleh Malik As-Saleh. Kerajaan ini terletak di Lhok Seumawe Aceh Utara di daerah Selat Malaka yang merupakan jalur perdagangan dan pelayaran internasional. Pada masa pemerintahan Malik As-Saleh, Kerajaan Samudra Pasai berkembang menjadi bandar pelabuhan besar yang banyak didatangi oleh pedagang dari berbagai daerah, seperti India, Gujarat, Arab, dan Cina. Dalam perkembangannya setelah Malik As-Saleh wafat pada 1927, kegiatan pemerintahan dilanjutkan oleh putranya, yaitu Sultan Muhamad Malik Al-Taher (1927 – 1326), Sultan Ahmad, dan Sultan Zainul Abidin. 2. Kerajaan Malaka Pendiri Kerajaan Malaka adalah Iskandar Syah. Kerajaan ini letaknya berhadapan dengan Selat Malaka sehingga sangat strategis karena letaknya tersebut, kerajaan ini sering kali menjadi tempat persinggahan para pedagang Islam yang berasal dari berbagai negara. Selain Iskandar Syah, terdapat beberapa raja yang sempat memimpin Kerajaan Malaka, di antaranya sebagai berikut. a. Muhammad Iskandar Syah (1414-1424). b. Sultan Mudzafat Syah dan Sultan Mansur Syah (1458-1477). c. Sultan Alaudin Syah yang (1477-1488). d. Sultan Mahmud Syah (1488-151). Kerajaan Malaka banyak dikunjungi oleh para pedagang dari Gujarat, Cina, Arab, Persia, dan negara lainnya sehingga kerajaan ini memanfaatkannya untuk meningkatkan kegiatan ekonominya. Karena kemajuannya dalam perdagangan, Kerajaan Malaka mampu mengalahkan kemajuan Kerajaan Samudra Pasai. 3. Kerajaan Demak Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah (1478). Raden Patah adalah putra Raja Majapahit Brawijaya, dengan ibu keturunan Champa (perbatasan dengan Kamboja dan Vietnam). Kebudayaan masyarakat Demak bercorak Islam yang terlihat dari banyaknya masjid, makam-makam, kitab suci Al-Qur’an, ukir-ukiran berlanggam (bercorak) Islam, dan sebagainya. Sampai-sampai sekarang Demak dikenal sebagai pusat pendidikan dan penyebaran agama Islam di Jawa Tengah. Bahkan, dalam sejarah Indonesia, Demak dikenal sebagai pusat daerah budaya Islam di Pulau Jawa. 4. Kerajaan Mataram Islam Kerajaan Mataram Islam berdiri berkat perjuangan dari Ki Ageng Pemanahan yang meninggal pada 1575. Setelah meninggal, digantikan oleh anaknya Sutawijaya (Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah). Pada masanya, Kerajaan Mataram terus berkembang dan menjadi kerajaan terbesar di Jawa. Wilayahnya berkembang seputar Jawa Tengah, Jawa Timur, Cirebon, dan sebagian Priangan. Setelah meninggal pada tahun 1601, Sutawijaya digantikan oleh Mas Jolang atau Panembahan Seda Ing Krapyak (1601-1613). Selanjutnya, diteruskan oleh anak Mas Jolang yaitu Raden Mas Martapura karena sering sakit-sakitan, Raden Mas Martapura digantikan oleh anak Mas Jolang yang lain, yaitu Raden Mas Rangsang yang dikenal dengan nama Sultan Agung (1613-1645). Pada masa Sultan Agung inilah Mataram mengalami puncak kejayaan. Dalam perkembangan selanjutnya, Kerajaan Mataram terpecah belah sehingga berubah menjadi kerajaan kecil. Perpecahan disebabkan adanya gejolak politik di daerah-daerah kekuasaan Mataram dan peran serta VOC dan penguasa Belanda yang menginginkan menguasai tanah Jawa. Dalam Perjanjian Giyanti (1755) disebutkan bahwa wilayah Mataram dibagi menjadi dua wilayah kerajaan sebagai berikut. a. Daerah Kesultanan Yogyakarta yang disebut Ngayogyakarta Hadiningrat dengan Mangkubumi sebagai rajanya dan bergelar Hamengkubuwono. b. Daerah Kasuhunan Surakarta yang diperintah oleh Pakubuwono. Akibat Perjanjian Salatiga peranan Belanda dalam pemerintahan Mataram semakin jauh sehingga pada 1913 Mataram akhirnya terpecah menjadi empat keluarga raja yang masing-masing memiliki kekuasaan, yaitu Kesultanan Yogyakarta, Kasuhunan Surakarta, Pakualaman dan Mangkunegaran. 5. Kerajaan Cirebon Kerajaan ini lahir pada abad ke-16. Pada abad tersebut, daerah Cirebon berkembang menjadi pelabuhan ramai dan menjadi pusat perdagangan di pantai utara Jawa Barat. Majunya kegiatan perdagangan juga mendorong proses islamisasi semakin berkembang sehingga Sunan Gunung Jati membentuk kerajaan Islam Cirebon. Dengan terbentuknya kerajaan Islam Cirebon, maka Cirebon menjadi pusat perdagangan dan pusat penyebaran Islam di Jawa Barat. 6. Kerajaan Banten Pendiri Kerajaan Banten adalah Sunan Gunung Jati dan raja pertamanya adalah Hasanuddin yang merupakan anak dari Sunan Gunung Jati. Semula wilayah ini termasuk bagian dari Kerajaan Pajajaran. Kerajaan Banten memiliki hubungan dengan kerajaan Demak. Hasanuddin menikah dengan putri Sultan Trenggono dan melahirkan dua orang anak, yaitu Maulana Yusuf dan Pangeran Jepara. Dalam perkembangan selanjutnya, Maulana Yusuf (1570) menggantikan ayahnya untuk menjadi raja Kerajaan Banten yang kedua sampai dengan tahun 1580. Setelah itu, dilanjutkan oleh anak Maulana Yusuf (1580-1605), kemudian Abdul Mufakhir, Abu Mali Ahmad Rahmatullah (1640-1651) dan Abu Fatah Abdulfatah yang lebih dikenal dengan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1582). Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa inilah Kerajaan Banten mengalami puncak kejayaan. 7. Kerajaan Aceh Kerajaan Aceh muncul setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis. Masa kejayaan Kerajaan Aceh tercapai dalam pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Seni sastranya dalam kebudayaan masyarakat Aceh dipengaruhi oleh budaya agama Islam. Rakyat Aceh terutama kaum ulamanya gemar menulis buku kesusastraan. Misalnya, Nuruddin ar-Raniri menulis buku Bustanus Salatin dan Hamzah Fansuri menulis Syair Perahu, Syair Burung Pingai, dan Asrar al Arifin. Selain itu, hasil-hasil kebudayaan masyarakat Aceh dipengaruhi oleh lingkungan alamnya, yaitu sungai dan lautan.Rakyat Aceh pandai membuat perahu dan kapal-kapal layar. Dengan demikian, tampaklah bahwa masyarakat kerajaan Aceh dipengaruhi oleh budaya Islams 8. Kerajaan Gowa-Tallo Hasil kebudayaan masyarakat Makasar dipengaruhi oleh lingkungannya yang dikelilingi lautan. Hasil budaya rakyat Makasar yang paling terkenal adalah perahu bercadik, yang disebut Korakora. Ciri pertahanan dari kerajaan Makasar adalah adanya benteng-benteng pertahanan. Sampai sekarang di Makasar masih terdapat benteng-benteng pertahanan, yaitu benteng Sombaopu dan View Rotterdam. Jadi, aspek kehidupan budaya rakyat Makkasar lebih bersifat aqraris dan bahari. 9. Kerajaan Ternate dan Tidore Pengaruh agama dan budaya Islam di Maluku (Ternate dan Tidore) belum meluas ke seluruh daerah. Sebabnya, masih banyak 89 rakyat Maluku yang mempertahankan kepercayaan nenek moyangnya. Hal tersebut terbukti dari bekas peninggalan-peninggalannya, yakni masjid, buku-buku tentang Islam, makam-makam yang berpolakan Islam yang ada di Maluku tidak begitu banyak jumlah- nya. Dengan kata lain hasil-hasil kebudayaan rakyat Maluku merupakan campuran antara budaya Islam dan pra islam F . Manfaat yang dapat diambil dari sejarah perkembangan Islam di Indonesia a. Mengetahui dan memahami sejarah perkembangan Islam di Indonesia b. Mengetahui dan memahami perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. c. Menjadi cermin untuk memacu kehidupan yang lebih baik d. Mempelajari sejarah agar dapat melakukan perubahan yang lebih baik e. Menghargai kerja keras para pahlawan bangsa f. Kehadiran para pedagang Islam yang telah berdakwah dan memberikan pengajaran Islam dibumi Nusantara turut memberikan nuansa baru bagi perkembangan pemahaman atas suatu kepercayaan yang sudah ada di nusantara ini. g. Hasil karya para ulama yang berupa buku sangat berharga untuk dijadikan sumber pengetahuan. h. Kita dapat meneladani Wali Songo telah berhasil dalam hal-hal seperti berikut : 1. Menjadikan masyarakat gemar membaca dan mempelajari Al Quran. 2. Mampu membangun masjid sebagai tempat ibadah dalam berbagai bentuk atau arsitektur hingga ke seluruh pelosok Nusantara. 3. Mampu memanfaatkan peninggalan sejarah, termasuk situs-situs peninggalan para ulama, baik berupa makam, masjid, maupun peninggalan sejarah lainnya. 4. Seorang ulama atau ilmuwan dituntut oleh Islam untuk mempraktikkan tingkah laku yang penuh keteladanan agar terus dilestarikan dan dijadikan panutan oleh generasi berikutnya. 5. Para ulama dan umara bersatu padu mengusir penjajah meskipun dengan persenjataan yang tidak sebanding. BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Banyak teori yang menjelaskan megenai kedatangan islam ke Indonesia, baik mengenai asal-usul waktu dan para pembawanya. Di antaranya ada yang mengatakan bahwa agama islam datang langsung dari timur tengah, langsung dari arab dan sudah terjadi pada abad pertama hijriyah. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannyabeberapa situs kuno di Sumatra. Bukti itu diperkuat dengan informasi data yang di peroleh dari seorang pendeta budha dari china barnama I-Tsing,bahwa sekitar tahun 674 M sudah ada sebuah perkampungan arab di Sumatra selatan. I-Tsing menyebutnya dengan po-sse dan Ta-shih.mereka mendapat fasilitas perkampungan di Palembang dan dari situ, antara lain, agama islam tersebar. Islam yang datang kesini berasal langsung dari arab, bukan Persia atau india. Selain itu, ditemukan istilah bersila dalam nomenklatur melayu. Kata ini menunjukkan adanya hubungan antara raja budha di Palembang dengan masyarakat non budha hindhu, yang tidak menyembah selian kepada tuhan. Mereka ini bisa diidentifikasi sebagai umat islam pertama di Indonesia. B. SARAN Semoga makalah ini bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan dan wawasan kita semua Demikianlah makalah ini penulis sampaikan, penulis sadar makalah ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat penulis harapakan demi kesempurnaan makalah yang akan datang.. DAFTAR PUSTAKA Sudrajat,budi.2007.Sejarah kebudayaan islam.Jakarta:Yudhistira Murodi.2008.Sejarah kebudayaan islam.Semarang:PT karya toha putra Hasjmy,A.1990.Sejarah kebudayaan di indonesia,cet 1.Jakarta: PT bulan bintan



vv

Tidak ada komentar:

Posting Komentar