Minggu, 29 Maret 2015

Makalah SIAT : Sejarah Kedatangan Islam di Malaysia


Tugas Terstuktur                                                Dosen Pembimbing
Sejarah Islam Asia Tenggara                                       M. Fahli Zatra Hadi

Sejarah Kedatangan Islam di Malaysia
UIN SUSKA RIAU 2012 LOGO REVISI




                                                                        Oleh:
Kelompok 3:
Febri Hamdani
11443104245
Sridevi Maharani
11443204151
Yossa Estikasari
11443201375

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SULTAN SYARIF KASIM
RIAU
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam makalah ini penulis membahas mengenai “sejarah Kedatangan Islam di Malaysia”.
Makalah ini dibuat dari berbagai buku dan juga ada referensi dari internet.
Penulis menyadari adanya kekurangan yang terdapat didalam makalah ini. Untuk itu penulis mengundang pembaca untuk memberikan kritik dan sarannya  untuk makalah ini. Kritik dan saran dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.


Pekanbaru, 24 Maret 2015

                                                                                                           Penulis  








                                                                                    

DAFTAR ISI

      KATA PENGANTAR
BAB   I   PENDAHULUAN
      A.Latar Belakang ............................................................................................ 1
      B.Rumusan Masalah......................................................................................... 2
      C.Tujuan Penulisan........................................................................................... 2
      BAB   II  PEMBAHASAN
      A.Sejarah Masuknya Islam ke Malaysia........................................................... 3
      B. Islam Masa Malaya Kolonial....................................................................... 7
      C. Kebangkitan Islam di Malaysia................................................................... 8
      D. Dinamika Islam di Negara Malaysia Kontenporer...................................... 10
      E. Islam Sebagai Identitas Melayu................................................................... 11
      F. Persaingan Antara UMNO dan PAS dalam Isu Islamisasi.......................... 12
      BAB   III  PENUTUP
      A.Kesimpulan .................................................................................................. 14
      B.Saran ............................................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 16











BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Islam sebagai suatu kekuatan yang diperhitungkan di masa pra kolonialisme dan dalam batas tertentu perjuangan kemerdekaan dalam abad dua puluh, kekuatan dan sumbangan Islam bagi perubahan sosial politik selama ini sering diabaikan, sehingga muncullah pergolakan-pergolakan di dunia Islam mengalami kebangkitan termasuk di Malaysia.
Pada awalnya, Malaysia adalah kerajaan federal di Asia Tenggara yang terletak di semananjung Malaka dan sebagian Kalimantan Timur yang penduduknya mayoritas Islam dan konstitusi sebagai agama resmi negara, sehingga syariat Islam ditegakan dengan baik dan benar. Munculnya Islam di Malaysia berkat jasa para pedagang  yang mempunyai semangat yang tinggi dalam menyiarkan dan mengembangkan Islam dari Arab melalui Malaka yang saat itu sebagai pusat perdagangan. Karena memang jalur perdagangan merupakan salah satu media yang efektif dalam mengembangkan dan menyiarkan ajaran Islam.
Malaysia dominan masyarakatnya muslim, tampak kelihatan sangat heterogen terutama bila dilihat dari segi etnis, suku dan ras mereka. Karena itu, di Malaysia dapat dijumpai sejumlah kelompok masyarakat muslim Indo-Melayu, bahkan suku Bugis dan Makassar, banyak di sana. Walaupun Malaysia sebagai salah satu negara yang masyarakatnya dominan muslim, namun tentu masih saja menimbulkan pertanyaan mengenai tempat asal datangnya Islam di sana dan bagaimana pola perkembangannya.
Perkembangan Islam di Malaysia ditandai dengan tumbuhnya institusi-institusi dengan baik hal ini peningkatan kesadaran beragama dalam sosial keagamaan, politik, ekonomi dan lain-lainnya, sebagai contoh sebuah oposisi Islam berkembang yaitu organisasi Kesatuan Nasional Melayu (UMNO) berusaha menyokong oposisi keagamaannya sendiri melalui perekrutan tokoh-tokoh agama dan berjanji memperjuangkan kepentingan Islam dan Pan-Melayu Islamic Party (P.M.I.P) yang menjadi juru bicara bagi permusuhan komunitas Muslim terhadap warga cina dan India. Orientasi keislaman P.M.I.P tidak hanya kepedulian ekonomi tetap juga kepedulian terhadap Perkembangan Islam Malaysia  dewasa ini semakin menunjukkan adanya pluralitas keberagamaan yang dapat memberi perlindungan bagi masyarakat non melayu yang pada umumnya menganut agama non Islam, sehingga mereka hidup berdampingan satu sama lain tanpa menimbulkan gejolak.
  1. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan di bahas oleh penulis adalah:
1.      Bagaimana sejarah masuknya Islam ke Malaysia?
2.      Bagaimana Islam pada masa kolonial di Malaysia?
3.      Bagaimana  Kebangkitan Islam di Malaysia?
4.      Bagaimana Islam pada masa Malaysia konterporer?
5.      Bagaimana Islam sebagai identitas Melayu?
6.      Bagaimana persaingan UMNO dan PAS dalam isu Islamisasi?

  1. Tujuan penulisan
Agar  pembaca dapat mengetahui bagaimana sejarah masuknya Islam ke negara Malaysia
Dan bagaimana perkembangan Islam di Malaysia








BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sejarah Masuknya Islam ke Malaysia
Tidak adanya dokumen yang lengkap mengenai kedatangan Islam ke Malaysia, menyebabkan munculnya berbagai teori tentang kapan dan dari mana Islam pertama kali menyebar di negara ini. Wan Hussein Azmi, dalam kitabnya Islam di Malaysia Kedatangan  dan Perkembangan ( Abad 7-20 M), beragumen bahwa Islam datang pertama kali ke Malaysia sejak abad ke 7 M. Pendapat in berdasarkan pada sebuah argumen bahwa pada pertengahan abad tersebut pedagang Arab sudah sampai pada gugusan pulau-pulau Melayu, dimana Malaysia secara geografis tidak dapat dipisahkan darinya. Para pedagang Arab yang singgah dipelabuhan dagang Indonesia pada paruh ketiga abad tersebut, menurut Azmi tentu juga singgah di pelabuhan- pelabuhan dagang di Malaysia.
Sejalan dengan pendapat Wan Hussein Azmi, Hashim Abdullah dalam kitabnya Perspektif Islam di Malaysia, menegaskan : para pedagang Arab singgah di pelabuhan-pelabuhan sumatera untuk mendapatkan barang-barang keperluan dan sementara menanti perubahan angin mosun. Ada diantara mereka yang singgah di pelabuhan-pelabuhan tanah melayu seperti Kedah, Trengganu dan Malaka. Oleh yang demikian bolehlah dikatakan bahwa islam telah masuk di tanah Melayu pada abad ke 7 M. Namun pendapat / teori ini masih sangat meraguakan karena hipotesis tersebut terlalu umum dan masih dapat diperdebatkan.
Pendapat lain dikemukakan oleh S.Q Fatimi , dalam bukunya Islam Comes To Malaysia, menjelaskan bahwa Islam masuk ke Malaysia sekitar abad ke 8 H ( 14 M). Ia  berpegang pada penemuan batu bersurat di daerah Trengganu yang bertanggal 702 H ( 1303 M). Batu bersurat tersebut di tulis dengan aksara Arab. Pada sebuah sisinya memuat pernyataan yang memerintahkan para penguasa dan pemerintah untuk berpegang teguh pada keyakinan Islam dan ajaran Rasulullah Saw.Dan  pada  sisi lainnya memuat 10 aturan dan mereka yang melanggarnya akan mendapat hukuman.
Selain itu, Majul juga berpendapat bahwa Islam pertama kali tiba di Malaysia sekitar abad ke 15 dan 16 M. Namun pendapat Fatimi dan Majul, juga tidak dapat diterima, karena ada bukti yang lebih kuat yang menunjukkan bahwa Islam telah sampai ke Malaysia jauh sebelum itu yakni pada ke 3 H( abad 10 M). Pendapat terakhir ini berdasarkan pada penemuan batu nisan di Tanjung Ingris, Kedah pada tahun 1965. Pada batu  nisan tersebut tertulis nama Syekh Abdu Al Qadir Ibnu Husayn syah yang meninggal pada tahun 291 H (940 M). Menurut sejarawan, Syekh Abdu Al Qadir adalah seorang Da’i keturunan Persia. Penemuan ini merupakan suatu bukti bahwa Islam tlah datang ke Malaysia pada sekitar abad ke 3 H( 10 M).
Tanjung Ingris Kedah tempat ditemukannya batu nisan tersebut merupakan daerah yang tanahnya lebih tinggi dari daerah sekitarnya. Lebih strategis dan layak dijadikan sebagai tempat  persinggahan pedagang- pedagang yang menggunakan sungai Kedah. Disekitar  makam tersebut juga terdapat banyak batu nisan dan ini memperlihatkan bahwa tempat tersebut merupakan sebuah perkampungan lama bagi orang Islam dan menjelaskan bahwa Tanjung Ingris Kedah adalah tempat persinggahan pedagang- pedagang Arab dan Persia.
Sejauh menyangkut penyebaran Islam di Malaysia, peranan Malaka sama sekali tidak dapat dikesampingkan. Karena koversi Melayu terjadi terutama selama periode kesultanan Malaka pada abad ke 15 M, dari sekitar tahun 1402 hingga 1511 M. Malaka dalam sejarah di nukilkan bahwasanya pembentukan dan pertumbuhannya disinyalir ada kaitannya dengan perang saudara dikerajaan Majapahit setelah kematian Hayam Wuruk ( 1360-1389 M). Pada tahun 1401 M meletus perang saudara untuk merebut tahta kerajaan antara Wira Bumi dengan raja Wikrama Wardhana. Dalam perang tersebut Parmewara ( Putra Raja Sriwijaya dari Dinasti Seilendra) turut terlibat karena ia menikahi salah seorang putri Majapahit. Oleh karena pihak yang ia bantu mengalami kekalahan maka parmewara dan pengikutnya melarikan diri kedaerah Tumasik (singapura) yang berada di bawah kekuasaan empair Siam pada saat itu.
Temasek pada masa itu lebih merupakan sebuah perkampungan kaum nelayan, diperintah oleh seorang wakil raja Siam yag bernama Tamagi. Oleh karena inginkan kekuasaan akhirnya Parmewara membunuh Tamagi dan berhasil menjadi penguasa di Temasek. Peristiwa terbunuhnya Tamagi diketahui oleh raja Siam. Kemudian memutuskan untuk menuntut balas atas kematian Tamagi. Parmewara dan para pengikutnya mengundurkan diri ke Muar dan akhirnya sampai ke Malaka. Malaka ketika itu merupakan sebuah kampung kecil yang didiami oleh sebagian kecil kaum- kaum nelayan yang kerja mereka sebagian perampok kapal-kapal dagang yang datang dari Barat ke Timur. Sesampainya di Malaka, parmewara dilantik menjadi penguasa oleh pengikut-pengikutnya dan penduduk asli disana, dan kemudian mendirikan kerajaan Malaka pada tahun 1402 M.   
Menurut ahli sejarah, ada beberapa faktor yang meyebabkan Parmeswara memilih Malaka sebagai kediamannya, antara lain:
  1. Malaka mempunyai lahan datar yang luas, sesuai dijadikan tempat tinggal dan kawasan cocok tanam.
  2. Bukit-bukit yang berada berdampingan tanah datar dapat digunakan sebagai benteng keselamatan dan pertahanan.
  3. Letaknya bertentangan dengan Sumatera yang kaya dengan keperluan perdagangan seperti beras, lada hitam, kapur, emas dan lain-lain.
  4. Faktor yang terpenting sekali, karena kedudukan Malaka di tengah-tengah perjalanan laut antara Asia Barat Farsi, India dan Cina. Sangat strategis dijadikan sebagai pelabuhan perantara atau pelabuhan internasional.
Berdasarkan faktor-faktor yang ada Malaka tumbuh dengan pesat terutama dalam bidang perdagangan. Dengan berkembangnya Malaka sebagai daerah pelabuhan yang bertaraf internasional, secara tidak langsung telah mengundang orang-orang Arab dan khususnya para pedagang dari bangsa tersebut untuk masuk ke daerah tersebut dan melakukan transaksi perdagangan. Dan puncaknya Islam mendapatkan tempat di Malaka tak kala seorang ulama dari Jeddah yang Syeikh Abdul Aziz berhasil mengislamkan Parmewara pada tahun 1414 M ( abad ke 15 ).
Setelah Parmewara masuk islam, ia mengganti namanya dengan Sultan Megat Iskandar Shah. Kitab sejarah Melayu menceritakan bahwa Raja Malaka Megat Iskandar Shah adalah orang pertama kali di kerajaan tersebut yang memeluk agama Islam. Selanjutnya ia memerintahkan segenap warganya menjadi muslim. Dalam proses Islamisasi berikutnya, para Sultan memberi dukungan yang besar dengan turut meningkatkan pemahaman tentang Islam dan berpartisipasi dalam pengembangan wacana, kajian dan pengamalan Islam.
Dalam sejarah di nukilkan bahwasanya para sultan Malaka mulai dari sultan pertama dan sultan yang berkuasa belakangan sangat berminat terhadap ajaran Islam. Banyak di antara mereka yang berguru kepada ulama-ulama yang terkenal. Sebagai contoh sultan Muhammad Shah berguru kepada Maulana Abdul Aziz, Sultan Mansur Syah berguru kepada Kadi Yusuf dan Maulana Abu Bakar. Dengan adanya para Sultan tersebut belajar Islam dengan para ulama-ulama yang ada saat itu dan telah memiliki pengetahuan agama yang luas maka para sultan tersebut sebagaimana yang diungkapkan oleh A.C Milner dalam bukunya Islam and The Muslim State menjelaskan , bahwasanya Sultan Malaka sebagai orang yang telah mengajarkan pengetahuan Agama Islam kepada para raja di negeri-negeri melayu lainnya.
Respon sultan dan rakyat Malaka yang antusias terhadap kedatangan Islam, pada gilirannya turut pula mengangkat posisi Malaka sebagai pusat kegiatan berdakwah. Selain rakyat Malaka menyebarkan dakwah keluar negeri, banyak pula orang luar yang datang ke Malaka untuk menuntut ilmu. Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga, dua ulama terkenal di pulau Jawa menamatkan pengajiannya di Malaka. Peran Malaka yang begitu penting dalam upaya Islamisasi makin berkembang setelah sultan Muzzafar Shah yang berkuasa sekitar tahun 1450 menyatakan Islam sebagai agama resmi kerajaan Malaka, sultan Muzzafar shah juga telah menyusun perundang-undangan di negerinya yang sebagian isinya di warnai oleh ajaran Islam, yang mana undang-undang tersebut dikenal dengan nama Hukum kanun Malaka. Hukum kanun Malaka tersebut menjadi kitab sumber hukum dalam menangani beberapa pekara hukum di kesultanan Malaka. Dengan demikian , Malaka dapat dianggap sebagai kerajaan Melayu pertama yang menyusun perundangan yang mempunyai unsur-unsur syari’ah Islam.
Hukum kanun Malaka pada fase berikutnya banyak memberikan pengaruh pada Undang-undang negara-negara Melayu lainnya. Karena Undang-undang ini kemudian menjadi acuan dalam penulisan sejumlah kitab hukum di negeri-negeri Melayu lainnya, seperti kitab Hukum Pahang, UU Sembilan Puluh Sembilan Perak, Buku Hukum Kedah dari 1650-1784 dan buku Hukum Kedah 1789. Sehingga dapat dibayangkan bahwa undang-undang Melayu lainnya juga sarat dengan unsur syari’ah Islam.
  1. Islam Masa Malaya Kolonial
Kolonialisasi tanah Melayu telah menyebabkan nilai-nilai dan tatanan Islam dalam kehidupan masyarakat tradisional Melayu mengalami kemerosotan. Kebijakan kolonial portugis selama 130 tahun sejak 1511 cenderung mencegah penyebaran Islam dan perkembangan usaha dagang Muslim. Namun Portugis gagal dalam usaha ini terutama karena terus menerus mendapat perlawanan orang Melayu. Belanda yang datang setelah mengalah Portugis pada tahun 1641 agak lebih toleran kepada para penguasa Melayu. Pada tahun 1795 Belanda dapat ditaklukan oleh kekuasaan Inggris. Di bawah kolonialisasi Inggris, perkembangan ajaran agama Islam dan pengaruhnya pada kehidupan Melayu menjadi terbatas .
Ada beberapa aspek yang dapat dicatat mengenai intervensi kolonial sehingga ruang gerak, perkembangan, dan pelaksanaan Islam menjadi terbatas, antara lain mengangkut hukum Islam menjadi terbatas , antara lain menyangkut hukum Islam menjadi terbatas, antara lain menyangkut hukum Islam, paradigma politik Islam serta munculnya permasalahan terkait dengan demografi penduduk.
Pertama, berkaitan dengan perkembangan hukum Islam. Sebagaiman dijelaskan sebelumnya hukum Islam menempati posisi dasar dikesultanan-kesultanan Melayu. Namun demikian, setelah kekuasaan kolonial mulai kokoh melalui perjanjian pihak Inggris berhasil menekan para penguasa Melayu untuk menerima semua usulan Inggris dalam berbagai hal, termasuk yang berkaitan dengan hukum Islam. Pada saat yang sama , kolonial Inggris memperkenalkan dan menerapkan sistem hukum dan admistrasi hukum sipil yang berbeda dengan sistem hukum dan pengadilan Islam.
Kedua, dampak lain yang juga terkait dengan kolonialisasi Inggris adalah kemerosotan paradigma politik Islam. Menurut Azyumardi Azra: Kolonialisme yang kemudian disusul dengan penyebaran gagasan-gagasan dan konsep politik modern, seperti nasionalisme merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kemerosotan paradigma politik islam di kawasan ini sebagaimana direfleksikan dalam bahasa politik yang digunakan.
Ketiga, aspek lain dari kebijakan Inggris yang relevan dengan pembahasan ini adalah masalah Demografi. Pada saat yang sama dengan pembatasan pelaksanaan hukum islam, demografi mengalami perubahan. Masyarakat menjadi lebih pluralis akibat imigrasi besar-besaran orang-orang non muslim Cina dan India yang sengaja didatangkan Inggris untuk bekerja disektor industri, pertambangan dan perkebunan.
Apa arti ini bagi perkembangan Islam dalam sebuah negara yang akan terbentuk? Pluralitas masyarakat dengan multi agama dan budayanya jelas menjadi penghambat bagi perkembangan ajaran agama Islam. Karena berbagai aspek yang terkait dengan masyarakat yang berbeda agama dan budaya perlu menjadi pertimbangan dalam merumuskan setiap kebijakan dan peraturan kenegaraan pada sebuah negara yang baru tebentuk. Sehingga dampaknya setiap kebijakan dan aturan bersifat netral. Karena keberpihakan pada ajaran agama, prinsip hukum dan budaya tentu akan dinilai mendeskreditkan yang lain. Dengan demikian, itulah salah satu sebab mengapa sistem pemerintahan , bentuk negara dan sistem hukum yang berlaku pada negara Malaysia tidak dapat menerapkan kembali sistem pemerintahan dan hukum yang pernah berlaku pada masa kesultanan.
  1. Kebangkitan Islam di Malaysia.
Pengamalan islam menjadi lebih tampak jelas terutama setelah kebangkitan Islam di Malaysia yang terjadi pada tahun 1970-an. Dan mencapai puncaknya pada tahun 1980 an. Kebangkitan Islam di Malaysia terlihat jelas pada upaya muslim Malaysia untuk mengamalkan ajaran islam secara lebih serius seperti: aktif solat berjemaah di masjid, menghadiri wirid pengajian, banyak beramal sholeh, mengucapkan salam saat bertemu, berhati-hati saat membeli makanan agar tidak termakan pada yang haram, memakai busana muslim seperti jubah, jilbab atau baju kurung dan telekung bagi wanita, memakai sarung, serban dan peci atau pakaian lainnya yang jelas jelas mencirikan ketaatan sebagai muslim.
Gerakan kebangkitan islam juga terlihat dikalangan mahasiswa di kampus-kampus Malaysia. Dikalangan mahasiswa terdapat sekelompok-sekelompok pengajian yang dikenal dengan’dakwah’.Mereka secara aktif mengadakan pengajian, puasa bersama, sholat malam bersama, dan tidak jarang juga mengadakan zikir dan renungan malam bersama. Hal yang sama juga terjadi di kalangan mahasiswa yang belajar diluar negeri, baik yang belajar di inggris maupun di amerika.
Dilatar belakangi oleh pendekatan dan pandangan internasionalis FOSIS yang umum tentang islam, sementara mahasiswa asal Malaysia membutuhkan persiapan diri untuk perjuangan islam di Malaysia setelah kembali, diawal tahun 1975, dua organisasi islam yang baru yang lebih militan terbentuk dikalangan mahasiswa Malaysia di London, yaitu Suara Islam dan Islam Representation Council  (IRC). Berpegang pada ajaran-ajaran al-maududi, serta terinspirasi dari jamaah islami dari Indo-Pakistan dan Ikhwan al- muslimin dari mesir, para mahasiswa yang tergabung dalam duaorganisasi ini menjadi punya interpresentasi Islam yang radikal. Terutama Suara Islam,saat itu berobsesi untuk melaksanakan perjuaangan islam di Malaysia (revolusiislam), dengan perjuangan ideology yang akan menyoroti konflik fundamental antara cara islam dan bukan islam.
Berbeda dengan suara Islam, IRC dengan mengikuti garis Ikhwanus muslimin, berupaya mendirikan sel-sel rahasia sebagai alat terbaik untuk menyebarluaskan ajaran Islam.Strategi mereka adalah menyelinap kedalam organisasi yang ada dan berupaya memprakarsai perubahan melalui partai politik islam, IRC menekankan pendidikan, dengan menyebarluaskan alternative islam sebagai milik tunggal jalan sejati menuju cara hidup yang sempurna, melalui pembentukan dan penyebaran sel-sel rahasia kecil di kalangan mahasiswa. Dengan demikian terlihat bahwa gerakan mahasiswa luar negeri yang bergabung dengan organisasi-organisasi kemahasiswaan islam nampak lebih ekstrim dan memilih nada yang radikal karena terpengaruh oleh gerakan islam yang lebih fundamental separate ikhwan al-muslimin yang berpusat di mesir, dan jamaah islam di Pakistan. Saat ini mereka kembali ke Malaysia pada paruh atau akhir tahun 1970-an panggilan bagi pembentukan sebuah Negara islam dengan al-quran dan sunnah sebagai undang-undang dasarnya, mulai mendominasikan perbendaharaan dakwah.
Selain itu mahasiswa yang mempunyai kesadaran islam yang begitu tinggi ini, saat telah kembali ke Malaysia, mengabdi kepada Negara dan masyarakatnya. Dengan demikian, kebangkitan islam di Malaysia yang terlihat dari kesadaran muslim Malaysia untuk mengamalkan ajaran islam yang lebih serius, juga turut menguat nuansa islam di Malaysia, ditambah lagi oleh kenyataan bahwa bersamaan dengan kebangkitan islam tersebut terdapat himbawan  dan tuntunan agar pemerintah memperlihatkan kebijakan dan program-program yang  lebih islami.
D.    Dinamika Islam di Negara Malaysia Kontenporer.
     Kuatnya nuansa dan etos Islam di Malaysia dapat ditunjukkan dengan melihat kenyataan bahwa dibandingkan dengan sejumlah negara yang puya jumlah penduduk Muslim dan non-muslim yang hampir seimbang, hanya Malaysia yang memberikan banyak tekanan pada simbol-simbol, lembaga dan pengamalan islam. Kenyataan ini dapat dilihat terutama sejak kebangkitan Islam di Malaysia yang berlangsung sejak tahun 1970-an dan mencapai puncaknya pada tahun 1980-an. Hal ini dapat dibuktikan mulai dari deklarasi pemerintahan untuk merevisi sistem hukum nasionalagar lebih selaras dengan Hukum Islam (1978). Deklarasi pemerintahan untuk menyusun kmbali moel dan sistem ekonomi Malaysia menjadi model Islam (1980) selanjutnya diikuti oleh penyediaan infrastruktur dan institusi-institusi Islam seperti Bank IslamAsuransi Islam, Pegadaian Islam, Yayasan Ekonomi Islam, pembentukan kelompok Smber Daya Islam seta kelompok Khusus Penegakaan Islam(1981-1982), Pembangunan Sekolah Guru Islam (1980), pengadaan tempat yang permanen untuk Kamp Training Islam Internasional (1982), kesponsoran pemerintah terhadap Rumah Sakit Pusat Islam (1983), Pendirian  Universitas Islam Internasional (1983), deklarasi resmi tentang ‘Islamisasi Tubuh Pemerinthan’ (1984) deklarasi bahwa ‘Hanya Islam yang mendapat jatah waktu siaran i Radio dan TV Malaysia’(1988).
     Dalam perkembangan terakhir, dukungan pemerintah terhadap Islam dapat dilihat dari pembangunan secara besar-besaran pusat Islam di Putrajaya, serta intensifikasi program-program dan kegiatan keislaman melalui lembaga itu.
     Mengapa nuansa islam kelihatan lebih kuat di Malaysia dibanding dengan Indonesia yang penduduknya 88% beragama islam? Hal ini disebabkan oleh faktor sejarah perkembangan Islam yang telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perkembangan politik melayu sejak masa kesultanan Malaka. Kendati demikian, kuatnya etos Islam di Malaysia hanya bisa dipahami secara berarti dan realistis jika dihubungkan dengan banyak faktor lain yang telah memperkuat pengaruh islam dalam berbagai fase sejarah malaysia.
E.    Islam Sebagai Identitas Melayu
     Sejak periode paling awal Malaysia, islam telah mempeunyai ikatan yang erat dengan politik dan masyarakat Melayu. Islam bagi orang melayu, bukan hanya sebatas keyakinan, tetapi juga telah menjadi identitas mereka, dan menjadi dasar kebudayaan melayu. Pakaian tradisional melayu, misalnya telah disesuaikan dengan apa yang telah dianjurkan oleh islam. Berbaju kurung dan rok panjang bagi wanita yang disertai dengan tutup kepala yang bermaksud untuk menutup aurat. Pakaian laki-laki juga di sesuaikan dengan tuntunan ajaran Islam. Disepanjang sejarah, hubungan yang sangat erat antara islam dengan kebudayaan dan identitas melayu ini merupakan sesuatu yang diterima secara umum. Identitas melayu islam diantaranya bisa dilekatkan pada hakikat kepemimpinan politik melayu tradisional (kesultanan) yang dipimpin oleh sultan.
      Dalam bidang politik pemerintah, juga terdapat konsepsi dan pemikiran politik yang dipengaruhi oleh olehber sah lainnya. Sebagai  ajaran islam. Sehingga tradisi politik Melayu yang berbasis Hindu-Budha sebelum kedatanga islam telah digantikan dengan ide-ide yang diilham oleh Quran dan sumber-sumber lainnya. Sebagai contoh, bila sebelum kedatangan Islam, terkenal slogan ‘Pantang Melayu Menderka’ karena ketaatan orang melayu yang membuat para-para penguasa mereka sebagai akibat dari pandangan mitologis terhadap raja, begitu mereka menerima islam , mereka membrikan persyaratan  tertentu bagi loyalitas mereka terhadap penguasa. Sehingga slogan melayu yang telah dikenal luas itu diubah menjadi pepatah ‘Raja adil raja disembah, raja zalim raja disanggah’ ini berart bahwa  kekuasaan Melayu bukan tana batas, telah didefenisikan secara secara luas dalam ayat al-quran membaa pesan “tidak ada ketundukan kepada makhluk jika hal itu menyebabkan keingkaran kepada khalik”
     Penjajahan melayu oleh inggris telah menyebabkan kelemahannya nilai-nilai Islam yang telah meresap dalam tatanan mesyarakat tradisional melayu. Penjajahan itu tidak terbatas hanya pada aspek ekonomi dan politik saja, tetapi termasuk juga penjajahn pemikiran dan kebudayaan. Kolonial Inggris membuat pemisahaan yang jelas antara agama dan negara. Pelaksanaan hukum Islam di negara negara bagian malaysia pada masa kesultanan, telah berobah dibawah pengaruh inggris. Inggris menggantikan sistem hukum islam dengan keinginannya.
     Kekuatan lainnya terkait dengan identitas melayu islam yang penting untuk disebutkan disini adalah adanya hubungan interaksi antara agama dan etnisitas Melayu. Menurut Konstitusi Malaysia“Malay means a person who professes, conform to Malay customs”. Bila dicermati secara tajam, defenisi ini punya konotasi politis dan ekonomi serta konsekuensi-konsekuensi logis tertentu. Yang perlu menjadi catatan dalam hal ini adalah adanya kesadaran yang kuat dikalangan Melayu akan identifikasi Melay dan Islam. Oleh karena itu, kolerasi melyu islam telah menjadi alat dan sarana yang ampuh bagi politisi melayu dalam menyatukan dan merangkul komunitasnya. Meninggalkan partai yangberbasis melayu (UMNO/PAS) dapat dianggap melemahkan komunitas melayu islam, konsekuensinya akan terancam oleh orang-orang kafir. Sebaliknya, kebijakan-kebijakan ekonomi dan politik untuk membantu orang-orang melayu dapat dimaknai sebagai sarana untuk mempertahankan dan memperkokoh agama islam. Dari sinilah salah satunya terlihat maniferstasi dari identifikasi Melayu Islam.

  1. Persaingan Antara Partai UMNO dan PAS dalam Isu Islamisasi
Sebagaimana yang telah dijelaskna di atas, kekutan islam di Negara Malaysia tidak dapat dipisahkan dari beberapa faktor kausal, kondisional dan kontekstual serta peristiwa-peristiwa yang telah memperkuat pengaruh dan peran islam dalam berbagai fase sejarah Malaysia. Ini berkaitan, tidak hanya dengan identifikasi melayu islam, keberpihakan konstitusi pada islam, dan kebijakan pemerintah pasca kerusuhan etnis 1969, tetapi juga terkait dengan situasi kebangkitan islam di tingkat global dan nasional, serta adanya kompetisi panjang UMNO-PAS dalam mencari dukungan dan legitimigasi melayu.
Kompetisi atau persaingan antara partai pemerintah (UMNO) dengan partai Oposisi Islam ( PAS) turut punya andil yang relative besar dan memperkuat etos keislaman di Negara Malaysia. PAS adalah partai yang memperjuangkan islam, bermaksud membentuk Negara islam dan melaksanakan syariat islam di dalamnya. Massa pendukungnya adalah orang-orang melayu muslim. Sementara UMNO  adalah partai pemerintah yang pemimpinnya memegang jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan. Mayoritas pendukungnnya adalah juga Melayu Muslim yang menginginkan terciptanya suasana dan kondisi islam di Negara tersebut.
Partai PAS sebenarnya terlahir dari partai UMNO.Partai ini, tepatnya dilahirkan oleh ulama-ulama dalam UMNO yang bersebrangan pemikiran dengan partai itu.Kelahiran PAS sebagai sebuah partai politik disinyalir dilatarbelakangi oleh karena beberapa orang ulama dalam UMNO yang mempunyai komitmen kuat terhadap Islam, merasakan islam tidak mendapat tempat dan perhatian dari partai itu. Dengan demikian, bila kelahiran UMNO bertujuan untuk menentang Uni Malaya yang diinisiasi kolonial inggris dan memperjuangkan kemerdekaan, maka kelahiran PAS bertujuan memenuhi ruang kosong, dalam rangka memperjuangkan Islam yang dilihat kurang mendapatkan perhatian dalam perjuangan UMNO. Dari sinilah akan dilihat perbedaan dasar UMNO-PAS terhadap islam, suatu perbedaan yang menjadi dasar kritik dan koreksi PAS terhadap kebijakan dan pelaksanaan pemerintahan UMNO.
UMNO  tidak lari dari hakikat landasan perjuangan yang begitu kental dengan identitas nasionalisme. Menurut John Funston :”UMNO tidak mempunyai ideology melainkan perkara-perkara yang samar”. Menurutnya lagi :boleh dikatakan UMNO mempunyai ideologi  yang  jelas mengenai satu isu saja yaitu mengenai semangat nasionalisme melayu. UMNO  berpegang pada satu konsep sempit bangsa melayu dan sebenarnya lebih bersifat komunal daripada yang terlihat.
Berbeda dengan UMNO, komitmen PAS terhadap islam sangat besar. Dalam perjuangannya, PAS secara konsisten menyokong sebuah Negara islam dan aturan sosial berdasarkan hukum syariat serta mengutuk westenisasi, sekularisasi, materialisasi, kesenjangan ekonomi dan sosial dan politik otoriterianisme. Sebagai partai yang berideologi islam, PAS menjadikan islam sebagai cita-cita umatnya serta pedoman yang mempengaruhi pandangan, prilaku, kebijakan dan aksi politiknya.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dari sejarah perkembangan dasar perjuangan PAS sejak semula, PAS adalah partai politik yang memperjuangkan islam tulen. Sedangkan UMNO, sejak didirikan sampai saat ini, merupakan sebuah partai praktis tanpa suatu ideologi yang jelas, yang dapat dijadikan sebagai dasar perjuangannya, kecuali nasionalisme melayu. Ini tentu saja menjadi sasaran empuk kritik fundamuntalis islam. PAS sebagai partai oposisi yang berideologi islam tentu saja berada pada barisan terdepan dalam memperjuangkan tegaknya nilai-nilai islam di Negara itu.












BAB III
PENUTUP

  1. Kesimpulan
Tidak adanya dokumen yang lengkap mengenai kedatangan Islam ke Malaysia, menyebabkan munculnya berbagai teori tentang kapan dan dari mana Islam pertama kali menyebar di negara ini. Wan Hussein Azmi, dalam kitabnya Islam di Malaysia Kedatangan  dan Perkembangan ( Abad 7-20 M), beragumen bahwa Islam datang pertama kali ke Malaysia sejak abad ke 7 M. Pendapat in berdasarkan pada sebuah argumen bahwa pada pertengahan abad tersebut pedagang Arab sudah sampai pada gugusan pulau-pulau Melayu, dimana Malaysia secara geografis tidak dapat dipisahkan darinya. Para pedagang Arab yang singgah dipelabuhan dagang Indonesia pada paruh ketiga abad tersebut, menurut Azmi tentu juga singgah di pelabuhan- pelabuhan dagang di Malaysia.Sejalan dengan pendapat Wan Hussein Azmi, Hashim Abdullah dalam kitabnya Perspektif Islam di Malaysia, menegaskan : para pedagang Arab singgah di pelabuhan-pelabuhan sumatera untuk mendapatkan barang-barang keperluan dan sementara menanti perubahan angin mosun. Ada diantara mereka yang singgah di pelabuhan-pelabuhan tanah melayu seperti Kedah, Trengganu dan Malaka. Oleh yang demikian bolehlah dikatakan bahwa islam telah masuk di tanah Melayu pada abad ke 7 M. Namun pendapat / teori ini masih sangat meraguakan karena hipotesis tersebut terlalu umum dan masih dapat diperdebatkan.
Pendapat lain dikemukakan oleh S.Q Fatimi , dalam bukunya Islam Comes To Malaysia, menjelaskan bahwa Islam masuk ke Malaysia sekitar abad ke 8 H ( 14 M). Ia  berpegang pada penemuan batu bersurat di daerah Trengganu yang bertanggal 702 H ( 1303 M). Batu bersurat tersebut di tulis dengan aksara Arab. Pada sebuah sisinya memuat pernyataan yang memerintahkan para penguasa dan pemerintah untuk berpegang teguh pada keyakinan Islam dan ajaran Rasulullah Saw.Dan  pada  sisi lainnya memuat 10 aturan dan mereka yang melanggarnya akan mendapat hukuman.Selain itu, Majul juga berpendapat bahwa Islam pertama kali tiba di Malaysia sekitar abad ke 15 dan 16 M. Namun pendapat Fatimi dan Majul, juga tidak dapat diterima, karena ada bukti yang lebih kuat yang menunjukkan bahwa Islam telah sampai ke Malaysia jauh sebelum itu yakni pada ke 3 H( abad 10 M). Pendapat terakhir ini berdasarkan pada penemuan batu nisan di Tanjung Ingris, Kedah pada tahun 1965. Pada batu  nisan tersebut tertulis nama Syekh Abdu Al Qadir Ibnu Husayn syah yang meninggal pada tahun 291 H (940 M). Menurut sejarawan, Syekh Abdu Al Qadir adalah seorang Da’i keturunan Persia. Penemuan ini merupakan suatu bukti bahwa Islam telah datang ke Malaysia pada sekitar abad ke 3 H( 10 M).
Tanjung Ingris Kedah tempat ditemukannya batu nisan tersebut merupakan daerah yang tanahnya lebih tinggi dari daerah sekitarnya. Lebih strategis dan layak dijadikan sebagai tempat  persinggahan pedagang- pedagang yang menggunakan sungai Kedah.disekitar makam tersebut juga terdapat banyak batu nisan dan ini memperlihatkan bahwa tempat tersebut merupakan sebuah perkampungan lama bagi orang Islam dan menjelaskan bahwa Tanjung Ingris Kedah adalah tempat persinggahan pedagang- pedagang Arab dan Persia.
  1. Saran
Penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran dari pembaca tentang makalah ini.














DAFTAR PUSTAKA

Dardiri, Dkk. 2006. Sejarah Islam Asia Tenggara. Pekanbaru: Institute for Southeast Asian Islamic Studies (ISAIS) dan Alif Riau.

Thohir, Ajid. 2004. Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam. Bandung:PT Raja Grafindo Persada.

Gusrianto. 2012. Diktat Sejarah dan Perkembangan Islam di Asia Tenggara. Pekanbaru.





1 komentar: